Menolak Mentalitas “Di Aku Aman, Berarti Semua Aman”
Ketidakpedulian yang Dianggap Wajar
Melanjutkan pembahasan di UAS-1, kita sadar bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja dalam hal pembagian kesejahteraan. Namun, ada satu hal yang lebih berbahaya daripada masalah itu sendiri: ketidakpedulian kita.
Seringkali, ketika bicara soal kemiskinan atau kesusahan orang lain, kita mendengar komentar: “Ah, asalkan mau kerja keras, pasti bisa sukses kok. Lihat saja si A atau si B.”
Sebagai mahasiswa IT, sikap ini mengingatkan aku pada satu kalimat candaan klasik di dunia pemrograman: “It works on my machine.”
Artinya kira-kira: “Di laptopku programnya lancar-lancar saja kok. Kalau di laptopmu rusak, itu salahmu sendiri.”
Sikap ini berbahaya karena menutup mata bahwa laptop kita (situasi hidup kita) berbeda dengan orang lain. Hanya karena hidup kita aman dan lancar, bukan berarti sistem dunia ini adil bagi semua orang.
Mengapa Kita Harus Berhenti Berpikir Demikian?
Opini aku tegas: Kita harus berhenti menormalisasi pandangan bahwa kegagalan seseorang semata-mata adalah salah mereka sendiri.
Mengapa pandangan ini keliru?
-
Garis Start yang Berbeda
Hidup bukanlah perlombaan yang adil di mana semua orang mulai dari garis yang sama. Ada yang lahir dengan gizi cukup, lingkungan suportif, dan pendidikan bagus. Ada pula yang lahir di tengah konflik atau keterbatasan ekonomi. Menuntut hasil yang sama dari modal awal yang begitu timpang adalah sebuah ketidakadilan.
-
Validasi Rasa Sakit (UTS-2)
Seperti yang aku tulis dalam lirik lagu di UTS-2: “Bahagia itu tujuan, yakinkah?”
Memaksa orang yang sedang terhimpit keadaan untuk “tetap semangat” tanpa mengakui kesulitannya adalah bentuk pengabaian rasa. Sikap terbaik bukanlah memaksa mereka tersenyum, tapi mengakui bahwa “situasi ini memang berat, dan wajar jika kamu lelah.”
Sikap & Keputusan Terbaik
Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai individu profesional? Bagaimana kita merespons ketimpangan ini?
Berdasarkan nilai “Kepercayaan” dan “Empati” yang aku pegang (UTS-4), inilah sikap yang aku ambil:
1. Sikap: Jujur Mengakui Keadaan
Keputusan pertama adalah kejujuran. Jangan menutup mata bahwa keberhasilan kita seringkali juga karena faktor keberuntungan, bukan hanya kerja keras semata.
-
Lakukan: Katakan, “Aku mengerti situasimu sulit karena keadaannya memang tidak adil.” Validasi perasaan mereka.
-
Hindari: Menghakimi dengan kalimat seperti, “Kurang doa kali,” atau “Makanya jangan malas.”
2. Tindakan: Membuka Pintu untuk Orang Lain
Jika kita memiliki keistimewaan (privilege)—entah itu ilmu, koneksi, atau akses lebih—jangan dinikmati sendiri.
- Aksi Nyata: Membuka akses bagi mereka yang tidak punya kesempatan. Bisa berupa berbagi ilmu secara cuma-cuma, memberikan rekomendasi kerja, atau sekadar menjadi pendengar yang baik bagi keluh kesah teman tanpa menghakimi. Layaknya prinsip berbagi ilmu, kebaikan itu justru bertambah bobotnya saat dibagikan.
3. Pola Pikir: Memperbaiki Lingkungan Sekitar
Kita mungkin tidak bisa menghapus kemiskinan dunia sendirian. Tapi, kita bisa memperbaiki “dunia kecil” di sekitar kita.
-
Pastikan orang-orang di sekitarmu (teman, keluarga, rekan kerja, orang yang kamu temui di jalan) mendapatkan perlakuan adil darimu.
-
Seperti prinsip aku di
UTS-1: “Memastikan mereka selalu tenang bila bersamaku.” Itu adalah kontribusi nyata memperbaiki keadaan sosial, satu orang demi satu orang.
Penutup
Menghadapi dunia yang timpang tidak butuh motivator yang berteriak “Ayo Bangkit!”, tapi butuh teman yang tenang yang berani berkata, “Aku tahu ada yang salah di sini. Mari kita coba perbaiki semampu kita, bersama-sama.”
Sikap terbaik adalah empati yang masuk akal. Mengerti bahwa “Aman di aku” tidak berarti “Aman untuk semua orang.”
Referensi: Terhubung dengan konsep Ketidaksetaraan (UAS-1), Lagu “Air” (UTS-2), dan Nilai Empati (UTS-4).